RSS

Hukum Memilih Kafarat Nazar

20 Apr

Sabda Rasulullah saw,”Kafarat nazar adalah kafarat sumpah.” (HR. Muslim). Dan kafarat sumpah adalah memberi makan 10 orang miskin atau memberi pakaian kepada 10 orang miskin atau membebaskan budak. Jika orang itu tidak menyanggupi salah satu dari ketiga hal tersebut maka diwajibkan baginya berpuasa tiga hari, berdasarkan firman Allah swt :

لاَ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا عَقَّدتُّمُ الأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَن لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ وَاحْفَظُواْ أَيْمَانَكُمْ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).” (QS. Al Maidah : 89)

Tidak dibolehkan bagi seorang yang diwajibkan atasnya kafarat ini bersegera melakukan puasa tiga hari sementara dirinya memiliki kesanggupan untuk melaksanakan salah satu dari tiga macam kafarat sebelumnya : memberi makan 10 orang miskin atau memberi pakaian kepada 10 orang miskin atau membebaskan budak karena didalam ayat tersebut Allah swt mengurutkan puasa setelah ketidaksanggupan orang itu didalam melakukan salah satu dari ketiganya.

Kemudian para ulama pun berbeda pendapat tentang apakah puasa tiga hari tersebut harus dilakukan secara berturut-turut (setiap hari berpuasa hingga tiga hari) atau bisa tidak berturut-turut ?

Abu Hanifah dan Syafi’i mewajibkan baginya berpuasa secara berturut-turut berdasarkan bacaan Ibnu Mas’ud : “Puasa selama tiga hari berturut-turut”. Sementara Imam Malik dan Imam Syafi’i dalam pendapatnya yang lain tidaklah mewajibkannya berturut-turut dikarenakan tidak adanya nash atau qiyas terhadap perkara-perkara yang terdapat nash didalamnya. Allah swt tidaklah mensyaratkan berturut-turut didalam ayat 89 surat al Maidah diatas. Dengan demikian perkara ini diserahkan kepada orang yang melakukan puasa tersebut karena agama ini adalah kemudahan. Jika dirinya sanggup melakukan puasa secara berturut-turut maka itu afdhol namun jika dirinya tidak menyanggupinya lalu melakukannya dengan tidak berturut-turut maka itu pun dibolehkan.

Wallahu A’lam

sumber : http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/cara-membatalkan-nazar.htm

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 20 April 2011 in Mutiara

 

2 responses to “Hukum Memilih Kafarat Nazar

  1. bagus arif hidayat

    8 September 2014 at 1:33 am

    asalamualaikum wr wb, mba trus trang saya suka sekali dg isi blig mba, nah ini ada satu hal yg bwt saya ingin mengulik. puasa 3 hari sbagai pengampunan atas dosa dosa janji yang di sengaja, dan lafal niat puasa itu apa mba ???
    mohon penjelasannya
    arigato gozaimas

     
    • AL eMI

      18 September 2014 at 10:05 am

      Waalaikum Salam Warahmatullahi wabarakatu Bismillah.. Syukron sdh mampir di blok saya
      Niat dalam ibadah, baik wudhu, shalat, puasa dan selainnya tidak perlu dilafazhkan. Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Mengucapkan niat (secara jahr) tidak diwajibkan dan tidak pula disunnahkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa: 22/218-219) Dan dalam (22/236-237) beliau berkata, “Niat adalah maksud dan kehendak, sedangkan maksud dan kehendak tempatnya adalah di hati, bukan di lidah, berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun dia berniat dengan hatinya (tanpa memantapkannya dengan ucapan, pen.), Maka niatnya syah menurut Imam Empat dan menurut seluruh imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang belakangan.” Maka sekedar bangunnya seseorang di akhir malam untuk makan sahur -padahal dia tidak biasa bangun di akhir malam-, itu sudah menunjukkan dia mempunyai maksud dan kehendak -dan itulah niat- untuk berpuasa.
      baca juga Hukum Melafazkan Niat Untuk Sholat di catatan saya.

       

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: