Hukum Melafazkan Niat Untuk Sholat

Published 28 Juli 2011 by AL eMI

- Mazhab Hanafi : Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa niat sholat adalah bermaksud untuk melaksanakan sholat karena Allah dan letaknya dalam hati, namun tidak disyaratkan melafadhkannya dengan lisan. Adapun melafadhkan niat dengan lisan sunah hukumnya, sebagai pembantu kesempurnaan niat dalam hati. Dan menentukan jenis sholat dalam niat adalah lebih afdlal. (al-Badai’ I/127. Ad-Durru al-Muhtar I/406. Fathu al-Qadir I/185 dan al-lubab I/66)

- Mazhab Maliki : Ulama Malikiyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melaksanakan sesuatu dan letaknya dalam hati. Niat dalam sholat adalah syarat sahnya sholat, dan sebaiknya tidak melafadzkan niat, agar hilang keragu-raguannya. Niat sholat wajib bersama Takbiratul Ihram, dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan (al-Syarhu al-Shaghir wa-Hasyiyah ash-Shawy I/303-305. al-Syarhu al-Kabir ma’ad-Dasuqy I/233 dan 520).

- Mazhab Syafi’i : Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud melaksanakan sesuatu yang disertai dengan perbuatan. Letaknya dalam hati. Niat sholat disunnahkan melafadzkan menjelang Takbiratul Ihram dan wajib menentukan jenis sholat yang dilakukan. (Hasyiyah al-Bajury I/149. Mughny al-Muhtaj I/148-150. 252-253. al-Muhadzab I/70 al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab III/243-252).

- Mazhab Hambali : Ulama Hanabilah berpendapat bahwa niat adalah bermaksud untuk melakukan ibadah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sholat tidak sah tanpa niat, letaknya dalam hati, dan sunnah melafadzkan dengan lisan, disyaratkan pula menentukan jenis sholat serta tujuan mengerjakannya. (al-Mughny I/464-469, dan II/231. Kasy-Syaaf al-Qona’ I364-370).

Penjelasan :

Melafazkan niat teranggap sebagai perbuatan yg diada-adakan dlm agama sementara Allah telah berfirman dlm Kitab-Nya yg mulia :
Katakanlah: Apakah kalian akan memberitahukan kepada Allah tentang agama kalian?

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada orang yg jelek shalat :
Apabila engkau berdiri utk shalat mk bertakbirlah.

Di sini beliau tdk mengatakan kepada orang tersebut: “Katakanlah aku berniat” .

Ketahuilah ibadah shalat wudhu’ dan juga ibadah-ibadah yg lain memang tdk sah kecuali dgn niat. Oleh krn itu dlm pelaksanaan ibadah seluruh haruslah ada niat berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
Sesungguh tiap amalan itu harus disertai dgn niat.

Namun perlu diketahui niat itu tempat di hati dan keliru bila dikatakan bahwa di dlm kitab Al-Umm disebutkan tentang melafazkan niat. Ini salah bahkan hal ini tdk ada di dlm kitab Al-Umm tersebut.

Berkata Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahullah :
Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bila berdiri utk shalat beliau langsung mengucapkan Allahu Akbar dan tdk mengucapkan apa pun sebelum juga tdk melafazkan niat sama sekali. Beliau juga tdk mengatakan :
Aku tunaikan utk Allah shalat ini dgn menghadap kiblat empat rakaat sebagai imam atau makmum.

Melafazkan niat ini termasuk perbuatan yg diada-adakan dlm agama . Tidak ada seorang pun yg menukilkan hal tersebut dari Nabi Shallallahu alaihi wasallam baik dgn sanad yg sahih dha’if musnad atau pun mursal . Bahkan tdk ada nukilan dari para sahabat. Begitu pula tdk ada salah seorang pun dari kalangan tabi’in maupun imam yg empat yg menganggap baik hal ini.
Ha saja sebagian mutaakhirin keliru dlm memahami ucapan Imam Syafi’i – semoga Allah meridhai – tentang shalat. Beliau mengatakan: “Shalat itu tdk seperti zakat. Tidak boleh seorang pun memasuki shalat ini kecuali dgn zikir”. Mereka menyangka bahwa zikir yg dimaksud adl ucapan niat seorang yg shalat. Padahal yg dimaksudkan oleh Imam Syafi’i – semoga Allah merahmati – dgn zikir ini tdk lain adl takbiratul ihram. Bagaimana mungkin Imam Syafi’i menyukai perkara yg tdk dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dlm satu shalat pun begitu pula oleh para khalifah beliau dan para sahabat yg lain. Inilah petunjuk dan jalan hidup mereka. Kalau ada seseorang yg bisa menunjukkan kepada kita satu huruf dari mereka tentang perkara ini mk kita akan menerima dan menyambut dgn ketundukan dan penerimaan. Karena tdk ada petunjuk yg lbh sempurna daripada petunjuk mereka dan tdk ada sunnah kecuali yg diambil dari pemilik syari’at Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: